Pekanbaru - Sepanjang tahun 2012, ada 12 ekor gajah
Sumatera (Elephas maximus sumatranus) di Riau dan Aceh mati secara tak
wajar. Pemerintah pusat dan daerah diminta serius untuk mengusut kasus
tersebut.
Demikian disampaikan Direktur Program Kehutanan,
Spesies dan Air Tawar WWF (World Wildlife Fund)-Indonesia, Anwar
Purwoto, dalam siaran persnya yang diterima detikcom, Senin (11/6/2012).
Menurutnya, untuk menyelamatkan satwa dilindungi itu,
pemerintah pusat dan daerah harus bersinergi mengusut tuntas kematian
gajah yang tak wajar itu. "Kami meminta berbagai pihak meningkatkan
efektifitas, intensitas dan luasan cakupan patroli pencegahan konflik,
baik yang dilakukan oleh tim khusus maupun yang dilakukan secara swadaya
oleh masyarakat di habitat gajah," kata Anwar.
Dalam catatan WWF
Indonesia, diketahui populasi gajah Sumatera menurun drastis dalam
kurun waktu 4 tahun terakhir. Lembaga Konservasi Dunia (IUCN) menaikkan
status keterancaman gajah Sumatera dari 'genting' menjadi 'kritis',
hanya selangkah dari status 'punah di alam'.
"Ini merupakah
status terburuk dibandingkan subspesies gajah yang lain, baik di Asia
maupun Afrika. Saat ini jumlah gajah Sumatera di alam diperkirakan tidak
lebih dari 2.400 ekor - 2.800 ekor saja, turun 50 persen dari populasi
sebelumnya yaitu 3.000 - 5.000 ekor pada tahun 2007. Hilangnya habitat
akibat alih fungsi hutan merupakan penyebab utama penurunan populasi
gajah," papar Anwar.
Di Riau, sepanjang Maret-Juni 2012 tercatat 7
kematian gajah di kawasan blok hutan Tesso Nilo. Kasus kematian yang
terakhir terjadi di konsesi akasia PT. Riau Andalan Pulp and Paper pada 7
Juni 2012, Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten
Pelalawan. Seekor gajah jantan muda ditemukan mati dengan kondisi gading
hilang.
"Perambahan di Taman Nasional Tesso Nilo harus ditangani
dengan serius dan segera. Jika tidak konflik manusia-gajah akan terus
terjadi di kawasan yang dicadangkan menjadi Pusat Konservasi Gajah
tersebut," desaknya.
Sementara itu, Manajer Program WWF
Indonesia, Suhandri menambahkan, Kementerian Pertanian dan dinas terkait
di daerah harus peduli dan mengontrol secara ketat keberadaan industri
kelapa sawit dan perizinannya serta implikasinya dengan kawasan
konservasi dan keanekaraman hayati.
(cha/try)
Showing posts with label SATWA LIAR. Show all posts
Showing posts with label SATWA LIAR. Show all posts
Wednesday, 28 November 2012
Tuesday, 27 November 2012
BUKU EKOLOGI PAPUA VERSI INDONESIA DILUNCURKAN
“Buku pertama yang membahas ekologi tanah Papua secara komprehensif”
JAKARTA—(05 Juni 2012). Tanah Papua diperkirakan memiliki lebih dari 15.000 jenis tumbuhan berpembuluh, sekitar 2.000 jenis anggrek, lebih dari 100 jenis Rhododendron, dan berbagai jenis pohon yang menghasilkan kayu dengan nilai estetika dan bernilai ekonomi tinggi. Demikian pula luar biasanya kekayaan fauna. Burung mendominasi vertebrata Papua; lebih dari 600 jenis yang tercatat, termasuk 25 jenis burung cenderawasih, tiga jenis kasuari dan kira-kira dua lusin beo, merpati, burung pemangsa dan raja-udang.
Adapun jenis mamalia lebih sedikit, tetapi keberadaan populasi mamalia terus terancam akibat perburuan yang terus berlangsung. Codot, kangguru pohon, possum dan tikus paling terwakili di antara 180 atau lebih jenis yang ada. Ada pula hewan amfibi yang mencakup lebih dari 150 jenis katak, yang sebagian besar masih belum dikenal. Sedangkan reptilia terdiri dari dua jenis buaya, 61 jenis ular, 141 jenis kadal dan 11 jenis biawak.
PELAJARI: Ekspedisi Mamberamo
Selain itu, Tanah Papua dihuni oleh sekitar 150 jenis ikan air tawar dan lebih dari 2.250 jenis ikan laut. Jelas bahwa daftar ini belum lengkap, karena beberapa jenis baru terus ditemukan dalam beberapa penelitian terkini. Banyak jenis flora dan fauna ini merupakan spesies endemic yang hanya ditemukan di Pulau Papua saja , sehingga pulau yang berada di bagian timur Indonesia ini layak disebut sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati tertinggi di dunia.
Penjelasan tentang hal tersebut terungkap di dalam jilid terakhir Seri Buku Ekologi Indonesia yaitu Ekologi Papua dalam versi Bahasa Indonesia, diluncurkan Jum’at (25/5) oleh Yayasan Pustaka Obor Indonesia(YPOI) bekerjasama dengan Conservation International Indonesia di kantor Yayasan Obor Indonesia , di Jakarta.
LIHAT JUGA: Publikasi CI Indonesia
Buku ini menyajikan paparan lengkap tentang alam asli tanah Papua, dari mulai lingkungan fisik dan geografi, flora dan fauna, ekosistem alami, interaksi manusia dan ekosistem serta upaya konservasi sumber daya alam Papua. “Ini adalah buku pertama yang membahas ekologi tanah Papua secara komprehensif dan belum pernah ada buku lainnya yang membahas selengkap ini. Oleh karena itu buku ini dapat menjadi literatur utama bagi para peneliti universitas” Kata Ketut Sarjana Putra, Direktur Eksekutif Conservation International (CI) Indonesia.
Selain itu, buku ini sangat bermanfaat sebagai rujukan utama pemerintah Papua dalam menghitung nilai ekonomi kekayaan hayati Papua sehingga kebijakannya tidak menegasikan nilai-nilai lain yang menjamin kelangsungan pembangunan fisik, ekonomi dan sosial di pulau ini.
Tanah Papua merupakan wilayah unik dengan kekayaan alam hayati luar biasa baik di kawasan teresterial, pinggir pantai hingga terumbu karang. Kekayaan hayati di Tanah Papua merupakan proses warisan alam yang sangat tua dari kawasan bergunung-gunung yang kompleks, hingga kawasan pantai yang telah memilah penduduk asli yang telah menghuni kawasan tersebut selama sekitar 40 ribu tahun. Hal inilah yang menjadikan kawasan-kawasan ini memiliki kelompok budaya dan bahasa paling beragam di dunia.
Tidak mengherankan bahwa seorang pakar ilmu alam dan keanekaragaman hayati dari Universitas Harvard, E.O Wilson, sangat mengagumi pulau yang terletak di Indonesia bagian timur ini. “Ukuran pulau yang luas, iklimnya yang konstan dan cocok untuk pertumbuhan vegetasi, topografi yang terjal, dan kedekatannya dengan benua Asia dan Australia membuat pulau ini menjadi pusat tertinggi keanekaragaman hayati dan manusia.” Demikian kata Wilson, dalam pengantar buku itu.
Buku ini merupakan rangkuman dan terjemahan dua jilid buku versi bahasa Inggris Ecology of Papua yang telah terbit lebih dahulu tahun 2007. Versi dalam bahasa Indonesia setebal 981 halaman ini berisikan kajian literatur terkini yang komprehensif tentang sejarah dan kekayaan alam tanah Papua.
Melalui dana hibah pemerintah Provinsi Papua (Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga) maka buku Ekologi Papua berbahasa Indonesia dapat diterbitkan bersama Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Buku ini merupakan catatan penting alam Papua yang dapat menjadi rujukan para akademisi, praktisi lapangan, peneliti muda, pelajar, pegiat konservasi alam. Bagi para pengambil kebijakan di daerah informasi dalam buku ini dapat menjadi acuan dalam mempertimbangkan berbagai keputusan dalam pengambilan kebijakan.
JAKARTA—(05 Juni 2012). Tanah Papua diperkirakan memiliki lebih dari 15.000 jenis tumbuhan berpembuluh, sekitar 2.000 jenis anggrek, lebih dari 100 jenis Rhododendron, dan berbagai jenis pohon yang menghasilkan kayu dengan nilai estetika dan bernilai ekonomi tinggi. Demikian pula luar biasanya kekayaan fauna. Burung mendominasi vertebrata Papua; lebih dari 600 jenis yang tercatat, termasuk 25 jenis burung cenderawasih, tiga jenis kasuari dan kira-kira dua lusin beo, merpati, burung pemangsa dan raja-udang.
Adapun jenis mamalia lebih sedikit, tetapi keberadaan populasi mamalia terus terancam akibat perburuan yang terus berlangsung. Codot, kangguru pohon, possum dan tikus paling terwakili di antara 180 atau lebih jenis yang ada. Ada pula hewan amfibi yang mencakup lebih dari 150 jenis katak, yang sebagian besar masih belum dikenal. Sedangkan reptilia terdiri dari dua jenis buaya, 61 jenis ular, 141 jenis kadal dan 11 jenis biawak.
PELAJARI: Ekspedisi Mamberamo
Selain itu, Tanah Papua dihuni oleh sekitar 150 jenis ikan air tawar dan lebih dari 2.250 jenis ikan laut. Jelas bahwa daftar ini belum lengkap, karena beberapa jenis baru terus ditemukan dalam beberapa penelitian terkini. Banyak jenis flora dan fauna ini merupakan spesies endemic yang hanya ditemukan di Pulau Papua saja , sehingga pulau yang berada di bagian timur Indonesia ini layak disebut sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati tertinggi di dunia.
Penjelasan tentang hal tersebut terungkap di dalam jilid terakhir Seri Buku Ekologi Indonesia yaitu Ekologi Papua dalam versi Bahasa Indonesia, diluncurkan Jum’at (25/5) oleh Yayasan Pustaka Obor Indonesia(YPOI) bekerjasama dengan Conservation International Indonesia di kantor Yayasan Obor Indonesia , di Jakarta.
LIHAT JUGA: Publikasi CI Indonesia
Buku ini menyajikan paparan lengkap tentang alam asli tanah Papua, dari mulai lingkungan fisik dan geografi, flora dan fauna, ekosistem alami, interaksi manusia dan ekosistem serta upaya konservasi sumber daya alam Papua. “Ini adalah buku pertama yang membahas ekologi tanah Papua secara komprehensif dan belum pernah ada buku lainnya yang membahas selengkap ini. Oleh karena itu buku ini dapat menjadi literatur utama bagi para peneliti universitas” Kata Ketut Sarjana Putra, Direktur Eksekutif Conservation International (CI) Indonesia.
Selain itu, buku ini sangat bermanfaat sebagai rujukan utama pemerintah Papua dalam menghitung nilai ekonomi kekayaan hayati Papua sehingga kebijakannya tidak menegasikan nilai-nilai lain yang menjamin kelangsungan pembangunan fisik, ekonomi dan sosial di pulau ini.
Tanah Papua merupakan wilayah unik dengan kekayaan alam hayati luar biasa baik di kawasan teresterial, pinggir pantai hingga terumbu karang. Kekayaan hayati di Tanah Papua merupakan proses warisan alam yang sangat tua dari kawasan bergunung-gunung yang kompleks, hingga kawasan pantai yang telah memilah penduduk asli yang telah menghuni kawasan tersebut selama sekitar 40 ribu tahun. Hal inilah yang menjadikan kawasan-kawasan ini memiliki kelompok budaya dan bahasa paling beragam di dunia.
Tidak mengherankan bahwa seorang pakar ilmu alam dan keanekaragaman hayati dari Universitas Harvard, E.O Wilson, sangat mengagumi pulau yang terletak di Indonesia bagian timur ini. “Ukuran pulau yang luas, iklimnya yang konstan dan cocok untuk pertumbuhan vegetasi, topografi yang terjal, dan kedekatannya dengan benua Asia dan Australia membuat pulau ini menjadi pusat tertinggi keanekaragaman hayati dan manusia.” Demikian kata Wilson, dalam pengantar buku itu.
Buku ini merupakan rangkuman dan terjemahan dua jilid buku versi bahasa Inggris Ecology of Papua yang telah terbit lebih dahulu tahun 2007. Versi dalam bahasa Indonesia setebal 981 halaman ini berisikan kajian literatur terkini yang komprehensif tentang sejarah dan kekayaan alam tanah Papua.
Melalui dana hibah pemerintah Provinsi Papua (Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga) maka buku Ekologi Papua berbahasa Indonesia dapat diterbitkan bersama Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Buku ini merupakan catatan penting alam Papua yang dapat menjadi rujukan para akademisi, praktisi lapangan, peneliti muda, pelajar, pegiat konservasi alam. Bagi para pengambil kebijakan di daerah informasi dalam buku ini dapat menjadi acuan dalam mempertimbangkan berbagai keputusan dalam pengambilan kebijakan.
Pecinta Hewan Wajib Liburan di 8 Tempat Ini
Jakarta - Mengaku pecinta hewan? Mungkin Anda bosan berlibur di safari atau kebun binatang. Anda bisa mencoba aktivitas yang lebih ekstrem bersama hewan-hewan keren di seluruh dunia. Mau tahu apa saja, yuk disimak!
Beberapa pecinta binatang, mungkin punya keinginan untuk bertualang bersama hewan liar. Habitat hewan yang alami bisa jadi salah satu daya tarik traveler. Di sana Anda akan merasakan langsung berada di tengah alam liar yang cantik, indah, dan masih alami.
Berikut kegiatan liburan nan seru untuk pecinta hewan versi All Womens Talk, Senin (26/11/2012):
1. Dog Sledding dengan di Lapland, Swedia
Berputar di atas salju yang dingin menggunakan kereta anjing, sering Anda lihat di film-film atau kartun. Akan tetapi, sebenarnya Anda juga bisa menikmati sensasi menaiki kereta yang ditarik oleh segerombolan anjing husky ini.
Ya, Anda bisa datang ke Lapland di Swedia. Meski telinga dan hidung terasa membeku karena dingin yang menusuk, perjalanan Anda bersama anjing-anjing husky tetap seru.
Sekitar 12 anjing husky akan menarik kereta yang Anda naiki. Di daerah Lapland juga terdapat banyak operator perjalanan yang menawarkan berbagai kegiatan bersama anjing husky. Tidak sekadar menikmati tarikannya, di sini traveler juga bisa mengunjungi kandang husky dan bermain bersama.
2. Menjelajah Kandalama di Sri Lanka
Danau Kandalama di Sri Lanka, bisa jadi destinasi pilihan para pecinta hewan. Panorama alam nan hijau dan subur semakin sempurna dengan berbagai macam satwa liar yang hidup dalam habitat ini.
Keghidupan alam liar nan eksotis tersaji di setiap pelosok daerah ini. Di sini, wisatawan bisa melihat langsung tingkah laku lucu hewan, seperti lutung dan monyet liar. Mereka bebas berayun dari pohon yang satu ke pohon lainnya.
Sadar memiliki potensi wisata, daerah ini pun terkenal sebagai dengan ekowisatanya. Ada cukup banyak hotel yang menyediakan tur untuk mengelilingi kawasan Kandalama. Tidak hanya dengan trekking, bila merasa lelah traveler bisa menunggangi kuda atau gajah.
3. Mencari harimau di India
Ranthambore National Park berada di Rajasthan, India pasti masuk dalam jadwal perjalanan para traveler pecinta hewan. Di taman nasional ini Anda bisa bertualang menikmati alam bersama satwa liar.
Ya, Ranthambore dihuni oleh babi hutan, beruang, dan macan tutul. Perlu Anda ketahui kalau populasi terbesar harimau ada di India dan salah satunya adalah taman ini.
Negara Bollywood ini sangat bangga bisa melestarikan dan melindungi harimau. Di tempat ini juga dengan tegas mengambil langkah untuk menghapus perburuan si kucing besar ini. Berlibur ke negara ini, jangan lewatkan berkunjung ke konservasi harimau. Pastikan, Anda bisa melihat hewan ganas ini hidup di alam liar.
4. Berlayar di Kepulauan Galapagos
Kepualauan Galapagos menjadi situs warisan dunia UNESCO yang berada di lepas pantai Ekuador. Kepulauan ini pun terkenal sebagai rumah untuk beberapa spesies unik serta kehidupan laut yang cantik.
Di pulau-pulau yang ada di sini, juga terdapat koloni kura-kura raksasa dan penguin. Wisatawan juga bisa melihat kawanan elang dan burung tropis lainnya terbang di langit Galapagos. Suasana ini tentunya sangat menyenangkan untuk para pecinta alam dan hewan.
Cara terbaik untuk meenikmati semua keindahan ini adalah dengan berlayar. Anda bisa menggunakan kapal pesiar atau kapal kecil yang siap dan kuat membawa Anda keliling pulau. Jangan terpana dengan keindahan alamnya, bisa-bisa Anda lupa mengabadikan semua panorama cantiknya melalui jepretan kamera.
5. Berenang dengan lumba-lumba di Bahama
Salah satu hewan liar yang seru diajak bermain adalah lumba-lumba. Berenang bersama ikan mama lia ini, jadi kegiatan yang sangat asyik. Lumba-lumba secara alami merupakan makhluk yang lucu dan suka berinteraksi dengan manusia.
Di seluruh dunia sebenarnya ada banyak tempat asyik untuk berenang dan bermain bersama lumba-lumba. Salah satu yang jadi incaran traveler adalah di laut Bahama. Di sini airnya hangat. Namun, buat traveler yang ada di Indonesia bisa berlibur ke Pantai Lovina, Bali. Di sini traveler juga bisa berbenang dan berinteraksi dengan lumba-lumba.
6. Jadi relawan di Elephant Sanctuary di Thailand
Liburan sambil bekerja, siapa takut! Buat Anda yang suka dengan binatang khususnya gajah bisa mencoba liburan menjadi relawan di tempoat pelestarian gajah. Thailand memang menjadi tempat suci untuk para gajah.
Di Thailand Utara menjadi tempat penyelamatan untuk gajah-gajah yang dianiaya dan memberi perlindungan. Para traveler bisa ikut membantu perawatan gajah dengan biaya operasional dari Elephant Sanctuary.
Wisatawan akan diajarkan dan mendapat kesempatan belajar tentang perawatan gajah-gajah tersebut. Serunya lagi, pengunjung bisa mandi, makan, dan bermain dengan bayi gajah.
7. Datang ke peternakan domba di Skotlandia
Domba, hewan lucu yang satu ini punya daya pikat melalui bulu-bulunya yang ikal dan putih. Tertarik dengan hewan yang satu ini? Cobalah datang ke Scottish Wool Centre di Loch Lomond dan Trossachs National Park, Skotlandia.
Wisatawan yang datang akan diperlihatkan bagaimana cara mencukur sampai memintal benang wol yang berasal dari bulu domba. Seperti di dongeng-dongeng, traveler yang datang kedua tempat ini bisa melihat anjing gembala dan bebek-bebek yang lucu.
Belajar mengenal varietas domba, juga bisa Anda lakukan. Buat urusan perut, Anda bisa mencicipi makanan tradisional Skotlandia, seperti Haggis yang terbuat dari jeroan domba.
8. Bermain dengan orangutan di Tanjung Puting, Indonesia
Alam Borneo tak mau kalah dengan destinasi lainnya. Bertempat di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, Anda bisa bertemu dan bermain bersama orangutan Kalimantan.
Hutan rimba yang masih alami akan menantang adrenalin Anda. Tanjung Puting menjadi lokasi pertama di Indonesia sebagai pusat rehabilitasi orangutan. Orangutan tersebut memiliki ukuran yang beragam, Anda pun bisa menggendong bayi-bayinya yang lucu dan berinteraksi dengan mereka. Tak hanya itu, Anda bisa melihat tingkah laku satwa ini saat makan atau pun bergelantungan di pohon-pohon yang tinggi menjulang.
Para pecinta orangutan bisa menjelajahi Sungai Sekonyer di dalam taman nasional ini. Di kiri kanan sungainya, ada hutan rimba yang sangat menakjubkan. Tak heran, Kalimantan layak disebut sebagai paru-paru dunia karena lebatnya hutan-hutan. Siapkan kamera, karena pemandangan seperti ini akan jarang ditemukan. Di pinggir Sungai Sekonyer juga terdapat beberapa penginapan dan homestay.
Friday, 23 November 2012
Wergan Jawa = Elang Jawa
Wergan Jawa (bahasa Latin: Alcippe pyrrhoptera) adalah spesies burung dari keluarga Timaliidae, dari genus Alcippe.
Burung ini merupakan jenis burung pemakan serangga, beberapa buah-buahan
yang memiliki habitat di hutan, pinggir hutan, gunung. tersebar diatas
ketinggian 1.000 m dpl. (wikipedia)
Burung ini endemik pulau jawa. Penyebaran burung ini hanya di Jawa Barat dan Jawa Tengah terbatas pada daerah pegunungan. Tetapi karena kekurangan data, IUCN menetapkan spesies ini ke dalam kategori LC (Least Concern). Kategori yang kurang relevan yang seharusnya diberikan pada spesies endemik yang habitatnya terancam ini.
Dalam buku Mc Kinnon disebutkan bahwa perjumpaan burung ini sangat jarang dan sangat sulit. Bisa dikatakan frekuensi perjumpaan sangat jarang. Hal itu yang membuat IUCN menetapkan burung ini masuk kategori LC. Alangkah butuhnya penelitian lebih lanjut terhadap burung langka dan endemik ini, dalam rangka meningkatkan status di peraturan perundang-undangan dan juga peraturan internasional.
Burung ini endemik pulau jawa. Penyebaran burung ini hanya di Jawa Barat dan Jawa Tengah terbatas pada daerah pegunungan. Tetapi karena kekurangan data, IUCN menetapkan spesies ini ke dalam kategori LC (Least Concern). Kategori yang kurang relevan yang seharusnya diberikan pada spesies endemik yang habitatnya terancam ini.
Dalam buku Mc Kinnon disebutkan bahwa perjumpaan burung ini sangat jarang dan sangat sulit. Bisa dikatakan frekuensi perjumpaan sangat jarang. Hal itu yang membuat IUCN menetapkan burung ini masuk kategori LC. Alangkah butuhnya penelitian lebih lanjut terhadap burung langka dan endemik ini, dalam rangka meningkatkan status di peraturan perundang-undangan dan juga peraturan internasional.
Wednesday, 21 November 2012
Harimau Sumatera di Medan Kembali Lahirkan 3 Anak
Medan - Seekor harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Taman Margasatwa Medan (TMM) kembali melahirkan tiga ekor anak. Kelahiran ini membuat keberadaan harimau di sana surplus, yakni sembilan ekor.
Hingga, Selasa (13/11/2012) harimau betina yang diberi nama si Manis, masih ditempatkan di ruangan khusus yang disebut ruangan preventif bersama ketiga anaknya. Dia mengaum kuat jika ada manusia yang mendekat ke kandang itu.
Kepala Urusan Kesehatan Hewan dan Konservasi Taman Margasatwa Medan, Sucitrawan, menyatakan pihaknya masih terus memonitoring kondisi kesehatan ketiga bayi harimau dan induknya.
"Sekarang ini kita terus pantau kondisi ketiga bayi ini. Dua di antaranya diketahui jenis kelaminnya jantan, namun yang seekor lagi belum bisa dipastikan," kata Sucitrawan kepada wartawan di Medan Zoo, di Simalingkar B, Medan.

Ketiga bayi harimau itu lahir pada 18 Oktober 2012. Induk jantannya bernama Anhar, harimau yang lahir di TMM 14 tahun silam, sedangkan si Manis merupakan hasil tangkapan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumut. Bagi si Manis, yang kini berusia 13 tahun, ini merupakan kali ketiga dia melahirkan.
Si Manis melahirkan pertama sekali pada Oktober 2009, namun dua ekor anak harimau itu mati. Kemungkinan karena belum mahir menjaga anak-anaknya mengingat itu merupakan pengalaman pertama. Berikutnya, si Manis melahirkan tiga anak pada 24 Juli 2011. Ketiga anak itu kini masih berada di TMM.
Rutinnya si Manis melahirkan, tidak lepas dari suplai makanan yang cukup dan pemeliharaan yang baik. Keberhasilan konservasi harimau ini juga menjadi modal besar TMM untuk menambah koleksinya. Jika masanya sudah pas, harimau itu bisa dibarter dengan binatang lainnya dari taman margasatwa lain, dan harimau sumatera biasanya lebih bernilai dibanding binatang yang lain karena sangat langka.
Bebas! Dokjali Si Elang Jawa Dilepas di Lereng Gunung Slamet
Banyumas - Cuaca cerah di lereng Gunung Slamet
mendukung pelepasan Dokjali, seekor Elang Jawa Indonesia (Nisaetus
bartelsi), di hulu sungai Banjaran lerengd Selatan Gunung Slamet,
Banyumas, Jawa Tengah. Pelepasan dilakukan oleh Tim dari Balai
Konservasi Sumber Daya Alam, Suaka Elang, Biodiversity Society Banyumas,
masyarakat Desa Melung dan PT Indonesia Power.
Elang jawa tersebut merupakan hasil sitaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat dari pemburu dan selanjutnya dibawa ke Suaka Elang selama empat tahun untuk menjalani rehabilitasi.
Sebelum hewan langka itu dilepasliarkan, sempat dibangun kandang habituasi yang di bangun di dekat bukit Cendana lereng Gunung Slamet. Kandang habituasi merupakan kandang untuk penyesuaian sebelum elang tersebut dilepasliarkan.
Sebelum menjalani rehabilitasi di Suaka Elang, elang Jawa ini sempat ditempatkan di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Gadog, Bogor, Jabar, sekitar dua tahun. Saat ini, usia elang diperkirakan mencapai empat hingga lima tahun.
Lika liku penyelamatan, perawatan di Suaka Elang sampai pelepasliarannya di kawasan sekitar hulu Sungai Banjaran lereng Selatan Gunung Slamet tidak lepas dari dukungan banyak pihak.
"Si Dokjali ini diadopsi dan didanai oleh Indonesia Power. Memang lebih baik dana BUMN itu digunakan untuk konservasi lingkungan, atau pemberdayaan ekonomi riil masyarakat sekitar," kata Koordinator Biodiversity Society Banyumas, Timur Sumardiyanto, kepada wartawan, Rabu (14/11/2012).
Menurut dia, selain elang jawa, spesies raptor juga banyak terdapat di Gunung Slamet. “Ada elang hitam, bido, ular dan raptor migrant lainnya terlihat di gunung slamet,” katanya.
Dia menjelaskan, elang Jawa yang hampir punah ini merupakan endemik Pulau Jawa. Keberadaanya terus berkurang karena perburuan liar dan semakin sempitnya habitat burung ini. Beruntung masih banyak pihak yang perduli dengan konservasi lingkungan.
Sementara itu, Wakil Bupati Banyumas Ahmad Husain, saat ditemui usai pelepasliaran elang jawa, mengatakan, pihaknya menyambut baik langkah yang dilakukan Suaka Elang, Biodiversity Society, BKSDA dan PT Indonesia Power.
"Burung ini juga disimbolkan menjadi garuda, lambang negara kita, namun burungnya semakin lama semakin habis. Oleh sebab itu, kita harus menjaga kelestariannya dan Pemerintah Kabupaten Banyumas akan mengusulkan paling tidak berupa Perbup (peraturan bupati) yang kemudian bisa dijadikan peraturan derah (Perda), khususnya tentang perlindungan satwa-satwa yang dilindungi," katanya.
Menurut dia, Gunung Slamet merupakan salah satu habitat elang jawa sehingga dipilih sebagai lokasi pelepasliaran burung ini. Sementara di Jawa Tengah sendiri penyebaran elang jawa hanya tinggal di Gunung Slamet, Merapi, Merbabu, Dieng, serta hutan di Pemalang.
Elang jawa tersebut merupakan hasil sitaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat dari pemburu dan selanjutnya dibawa ke Suaka Elang selama empat tahun untuk menjalani rehabilitasi.
Sebelum hewan langka itu dilepasliarkan, sempat dibangun kandang habituasi yang di bangun di dekat bukit Cendana lereng Gunung Slamet. Kandang habituasi merupakan kandang untuk penyesuaian sebelum elang tersebut dilepasliarkan.
Sebelum menjalani rehabilitasi di Suaka Elang, elang Jawa ini sempat ditempatkan di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Gadog, Bogor, Jabar, sekitar dua tahun. Saat ini, usia elang diperkirakan mencapai empat hingga lima tahun.
Lika liku penyelamatan, perawatan di Suaka Elang sampai pelepasliarannya di kawasan sekitar hulu Sungai Banjaran lereng Selatan Gunung Slamet tidak lepas dari dukungan banyak pihak.
"Si Dokjali ini diadopsi dan didanai oleh Indonesia Power. Memang lebih baik dana BUMN itu digunakan untuk konservasi lingkungan, atau pemberdayaan ekonomi riil masyarakat sekitar," kata Koordinator Biodiversity Society Banyumas, Timur Sumardiyanto, kepada wartawan, Rabu (14/11/2012).
Menurut dia, selain elang jawa, spesies raptor juga banyak terdapat di Gunung Slamet. “Ada elang hitam, bido, ular dan raptor migrant lainnya terlihat di gunung slamet,” katanya.
Dia menjelaskan, elang Jawa yang hampir punah ini merupakan endemik Pulau Jawa. Keberadaanya terus berkurang karena perburuan liar dan semakin sempitnya habitat burung ini. Beruntung masih banyak pihak yang perduli dengan konservasi lingkungan.
Sementara itu, Wakil Bupati Banyumas Ahmad Husain, saat ditemui usai pelepasliaran elang jawa, mengatakan, pihaknya menyambut baik langkah yang dilakukan Suaka Elang, Biodiversity Society, BKSDA dan PT Indonesia Power.
"Burung ini juga disimbolkan menjadi garuda, lambang negara kita, namun burungnya semakin lama semakin habis. Oleh sebab itu, kita harus menjaga kelestariannya dan Pemerintah Kabupaten Banyumas akan mengusulkan paling tidak berupa Perbup (peraturan bupati) yang kemudian bisa dijadikan peraturan derah (Perda), khususnya tentang perlindungan satwa-satwa yang dilindungi," katanya.
Menurut dia, Gunung Slamet merupakan salah satu habitat elang jawa sehingga dipilih sebagai lokasi pelepasliaran burung ini. Sementara di Jawa Tengah sendiri penyebaran elang jawa hanya tinggal di Gunung Slamet, Merapi, Merbabu, Dieng, serta hutan di Pemalang.
Alam Liar Kalimantan, Diterkam Buaya atau Dicakar Orangutan
![]() |
Orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting |
Rute menuju Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah memang terbilang jauh. Perahu sederhana membelah sungai yang menjorok ke tengah hutan. Dijamin ini akan membuat sensasi tersendiri.
Apalagi, trip ini di bawah intaian mata buaya liar yang ganas dan tidak sungkan menerkam manusia. Alhasil, mengikuti petunjuk guide lokal merupakan cara paling cepat untuk beradaptasi.
"Jangan pernah menyentuh air dengan tangan apalagi sampai mandi di sungai. Baunya itu menggiring buaya ke sini," kata seorang warga lokal Matholah saat detikTravek menembus hutan di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, minggu lalu.
Matholah yang sudah mengenal karakter para buaya dengan seksama menambahkan, banyak wisatawan terutama turis asing yang bandel. Ia sempat menyaksikan seorang turis diterkam buaya karena mandi di sungai.
"Itu sekitar 2 hingga 3 tahun lalu. Sudah saya bilang, dia tidak percaya. Akhirnya meninggal karena dimakan buaya," tukas Matholah.
Berbeda dengan Matholah, seorang manajer salah satu pondok konservasi orangutan menceritakan bagaimana seorang wisatawan dicabik-cabik orangutan karena melawan.
"Kejadiannya baru 3 hari lalu. Ada tamu yang tertinggal rombongan di jalan setapak. Dia dihampiri orangutan dan kameranya ditarik. Orangnya tidak mau kameranya diambil orangutan. Orangnya diamuk, dicakar-cakar hingga meninggal," kata Satri, Manajer Pondok Tanggui, sebuah taman penangkaran yang dihuni sekitar 35 ekor orangutan.
Namun cerita seram untuk bertemu orangutan di habitat aslinya, tidak menyurutkan kedatangan turis. Para wisatawan biasanya datang berkelompok atau hanya sepasang. Bila berkelompok, dapat menginap di satu-satunya penginapan di tengah hutan itu atau menginap di kota terdekat yakni di Pangkalan Bun.
"Pangkalan Bun kesini naik speedboat kecil yang menggunakan mesin tempel sekitar 1,5 jam. Pergi pagi, pulang setelah melihat orangutan diberi makan jam 14.00 WIB," imbuh Satri.
Sementara untuk turis asing yang berpasangan didominasi oleh turis lanjut usia di atas 60 tahun. Mereka menyewa kapal klotok, kapal kayu dengan ukuran 15x6 meter. Di kapal ini, para turis tersebut akan tinggal selama menikmati hutan habitat orangutan, biasanya 3 hingga 4 hari. Paket liburan di kapal kayu ini sekitar Rp 1,5 juta/malam.
"Mereka menikmati hutan yang sepi dan tidak ada sinyal telepon. Hanya duduk-duduk di kapal. Kalau waktu memberi makan orangutan, mereka turun dan melihat. Logistik sudah disiapkan sejak berangkat," ucapnya.
Pengalaman seru tersebut akan terbayar lunas saat melihat langsung dengan orangutan. Wajah lucu orangutan dan sikapnya yang unik menjadi sesuatu yang sulit dipadankan dengan pengalaman yang lain. Orangutan hanya hidup di Kalimantan dan Sumatera, tidak ada di tempat lain.
Para orangutan ini tampil lebih alamiah di sebuah bidang kayu 3x3 meter yang disiapkan sebagai meja makan. Sementar turis mengelilinginya dan siap-siap mengabadikan dengan kamera.
Sebelumnya, seorang tengkalang akan membawa tumpukan buah dan ditaruh di atas meja kayu itu. Tengkalang merupakan sebutan warga setempat bagi penjaga dan pemberi makan orangutan. Paling sering orangutan diberi pisang dan nangka.
"Khusus untuk yang masih bayi, kami berikan susu juga. Kalau orangutan sakit, mereka akan datang ke pos, wajahnya pucat dan bibirnya merah-merah. Fecesnya juga tidak seperti biasanya. Ada seorang dokter hewan yang memantau," ucap Satri.
Hanya saja, perjalanan untuk mencapai tempat ini relatif tidak murah. Dari Jakarta, biasanya para turis menggunakan pesawat langsung ke Pangkalan Bun, kota terdekat daeri taman nasional. Dari Pangkalan Bun harus menyewa speedboat mesin tempel ukuran 5 orang. Tarifnya Rp 500.000/kapal.
Kalau jumlah rombongan lebih besar, mereka dapat menyewa perahu klotok dengan tarif Rp 1,5 juta sudah termasuk menginap di kapal dan makan. Kapal ini bisa memuat hingga 15-an orang. Hanya ada sebuah resor yang disewakan di kawasan taman nasional ini.
"Bagaimanapun ini pengalaman paling menarik dan menantang," ucap seorang wisatawan lokal, Heru.
Konservasi Fauna di Kebun Binatang Surabaya
![]() |
Kebun binatang ini terletak di tengah-tengah kota,tepatnya di Wonokromo, Surabaya. |
Beberapa objek wisata di Jawa Timur yang menarik untuk dikunjungi antara lain, Kebun Binatang Surabaya. Kebun binatang ini terletak di tengah-tengah kota, tepatnya di Wonokromo, Surabaya.
Perusahaan Sawit Didesak Lindungi Orangutan
![]() |
Selama ini hanya sedikit areal konservasi untukorangutan dari perkebunan |
VIVAnews
- Presiden Direktur Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (RHOI),
Jamartin Sihite, mengatakan penyelamatan orangutan tidak harus langsung
ke hutan restorasi. Upaya lain yang bisa dilakukan adalah merehabilitasi
area konservasi yang di wilayah perkebunan kelapa sawit.
"Opsi penyelamatan dan pelepasan adalah opsi terakhir," kata Jamartin, Kamis, 2 Febuari 2012.
Namun menurut Deputi Direktur Konseravasi RHOI, Aldrianto Priadjati, ada beberapa perusahaan yang kurang mengerti hal ini. "Di lapangan terjadi gap antara manajemen perusahaan di pusat dengan perusahaan yang di bawah soal area konservasi," katanya.
"Opsi penyelamatan dan pelepasan adalah opsi terakhir," kata Jamartin, Kamis, 2 Febuari 2012.
Namun menurut Deputi Direktur Konseravasi RHOI, Aldrianto Priadjati, ada beberapa perusahaan yang kurang mengerti hal ini. "Di lapangan terjadi gap antara manajemen perusahaan di pusat dengan perusahaan yang di bawah soal area konservasi," katanya.
Ini menyebabkan upaya
perlindungan orangutan kurang maksimal. "Hanya sedikit areal
konservasi untuk orangutan dari perkebunan," tutut Aldrianto.
Harus Steril
Areal konservasi di wilayah perkebunan sawit itu juga harus steril dari unsur gangguan manusia untuk menjaga kehidupan manusia.
Untuk itu pihaknya siap memberikan bantuan perawatan dan konsultasi orangutan kepada pihak perusahaan sawit. Jamartin juga mendorong perusahaan kelapa sawit untuk menjadikan perlindungan orangutan sebagai komitmen perusahaan dalam memelihara biodiversiti alam.
"Ini harus jadi tanggungjawab biodiversiti perusahaan bagi perusahaan kelapa sawit. Jika tidak perlindungan orangutan akan jadi sampingan saja," tambah Martin.
Ia mengatakan untuk merehabilitasi orangutan setidaknya butuh 3,5 sampai 4 juta per bulan untuk satu individu orangutan. Untuk satu tahun, perlu biaya 35 sampai 45 juta untuk satu individu orangutan. "Nilai itu sudah (dihitung) saat timbul penyakit tertentu," jelasnya. (ren)
Untuk itu pihaknya siap memberikan bantuan perawatan dan konsultasi orangutan kepada pihak perusahaan sawit. Jamartin juga mendorong perusahaan kelapa sawit untuk menjadikan perlindungan orangutan sebagai komitmen perusahaan dalam memelihara biodiversiti alam.
"Ini harus jadi tanggungjawab biodiversiti perusahaan bagi perusahaan kelapa sawit. Jika tidak perlindungan orangutan akan jadi sampingan saja," tambah Martin.
Ia mengatakan untuk merehabilitasi orangutan setidaknya butuh 3,5 sampai 4 juta per bulan untuk satu individu orangutan. Untuk satu tahun, perlu biaya 35 sampai 45 juta untuk satu individu orangutan. "Nilai itu sudah (dihitung) saat timbul penyakit tertentu," jelasnya. (ren)
Spesies Monyet Langka Kolumbia Ditemukan
![]() |
Pihak Konservasi dari Taman Nasional iniakan mengumumkan secara resmi akhir pekan ini. |
Selama melakukan survey dan riset di Taman Nasional Kolumbia Selva de Florencia, ilmuwan setempat akhirnya menemukan sebuah temuan yang sangat mengejutkan. Monyet Laba-laba Cokelat atau bernama latin A Hybridus Bruneus ditemukan hidup disekitar Taman Nasional ini.
Species ini ditemukan hidup di kedua sisi sungai Magdalena, sebuah sungai yang melintasi Taman Nasional Selva de Florencia. Ketika Taman Nasional ini didirikan pada tahun 2005, tidak ada penampakan baru dari species monyet laba-laba cokelat ini. Bahkan species ini dianggap sudah punah.
Subscribe to:
Posts (Atom)




